Friday, March 23, 2007
RUMAH BARI
RUMAH ADAT PALEMBANG.
HAMPIR tiap suku yang mendiami wilayah-wilayah di Indonesia memiliki rumah adat dengan bentuk, gaya, dan fungsi, berbeda-beda. Masyarakat Sumatera Selatan dan Palembang khususnya, sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam yang memerintah sekitar tahun 1725 telah memiliki rumah adat (tradisional) yang disebut Rumah Limas. Disebut Limas karena atapnya yang menonjol berbentuk limas.
Rumah Limas bukanlah sekadar tempat berteduh dari panas, hujan, dan tempat berlindung dari serangan binatang buas. Pemilik rumah adat Limas Palembang umumnya orang yang pertama kali tinggal di daerah setempat, seorang raja atau sultan yang memerintah pada masanya. Rumah Limas merupakan simbol kekuasaan, tempat untuk bermusyawarah, mengambil kebijakan pemimpin, bagi kepentingan kesultanan pada masa itu.
Di rumah itulah dibuat berbagai peraturan dan keputusan yang menyangkut kepentingan raja dan kesejahteraan masyarakat.
Drs Djalaludin dalam bukunya Palembang, Dulu, Sekarang dan Akan Datang menyatakan, Limas bukan rumah adat, melainkan rumah tradisional Palembang yang dibangun oleh penguasa, pejabat, orang-orang mampu. Satu di antaranya rumah milik orang kaya di Palembang, Bayumi, di depan Universitas IBA, Jalan Mayor Ruslan.
Namun, menurut budayawan Palembang, Djohan Hanafiah, Limas adalah rumah adat Palembang yang dibuat pertama kali pada masa Kesultanan Palembang Darussalam yang memerintah di tahun 1725. Rumah ini untuk tempat berkumpul, memusyawarahkan sesuatu yang berkaitan dengan pemerintahan dan kemasyarakatan.
Rumah Limas memiliki ciri-ciri yang lain dari rumah-rumah adat di nusantara. Bahan utama rumah ini adalah kayu. Atapnya berbentuk limas atau joglo yang terpotong. Dinding rumah terbuat dari papan kayu, dengan pembagian ruang yang telah ditetapkan, lalu ditata secara bertingkat-tingkat (kijing).
Rumah Limas berdiri di atas sejumlah tiang yang dipancang ke tanah. Lantai rumah tidak langsung berada di atas tanah, melainkan berjarak sekitar dua meter untuk bagian depan dan tiga meter di bagian tengah rumah dari permukaan tanah. Kolong rumah biasa digunakan untuk menyimpan kayu bakar, alat berburu, dan barang-barang keperluan rumah tangga lainnya.
Dilihat dari depan, atap rumah seperti joglo yang terpenggal. Bentuknya mirip rumah di pesisir utara Jawa Tengah. Kekhasan rumah Limas ada pada ornamen-ornamennya bercorak bunga dan daun yang menggambarkan peradaban Islam masa itu.
Motif ornamen yang mirip arabesque simbar (platycerium coronarium) merupakan simbol utama ukiran rumah Limas Palembang.
Di bagian dalam rumah limas terdapat ruang utama untuk raja dan digambarkan sebagai tempat terhormat. Ruang ini merupakan gegajah (balairung), terletak tepat di bawah atap utama. Di ruangan ini terdapat amben atau balai tempat bermusyawarah yang lebih tinggi sekitar 75 cm dari gegajah.
Pada bagian kiri dan kanan ruang utama terdapat bilik (kamar) tidur bagi para penghuni rumah (raja dan permaisuri) berserta anak-anaknya ketika masih kecil, yang disebut juga sebagai Pangkeng. Di antara bilik kiri dan kanan terdapat pintu untuk turun ke jenjang bawah. Ruangan di jenjang bawah digunakan untuk untuk menyiman barang-barang. Di bagian belakangan terdapat pawon (dapur).
Ruang-ruang itu dibuat bertingkat-tingkat yang menggambarkan sistem tingkatan dalam keluarga. Di bagian depan terdapat ruang untuk para tamu.
Rumah Limas, kini bukan lagi terbatas milik keturunan para sultan, tetapi juga pengusaha dan tokoh yang memiliki dana untuk mendirikan rumah itu.
Rumah limas banyak ditemukan di daerah Seberangulu Kota Palembang. Selain rumah Limas milik saudagar besar Palembang, Bayumi, di Jalan Mayor Ruslan, Palembang, juga terdapat satu lagi di Museum Malaputra Dewa, kilometer lima (km-5). Rumah tersebut dipindahkan dari belakang kantor Wali Kota Palembang. Satu rumah Limas lagi adalah milik Cek Azis Hamid, terletak di Jalan Demang Lebar Daun.
Bukan suatu keharusan dalam adat Palembang bahwa rumah adat Limas dimiliki oleh keturunan bangsawan. Masyarakat yang secara finansial mampu dapat pula membangunnya.
Thursday, March 22, 2007
OMA
ORGANATION atau Organisasi adalah kerjasama orang-orang atau kelompok dengan menggunakan dana, alat-alat dan teknologi serta mau terikat dengan peraturan-peraturan dan lingkungan tertentu supaya dapat mengarah pada pencapaian tujuan yang di ingini. Tujuan organisasi bersifat umum dan abstrak. Tujuan pokok adalah suatu cita-cita yang hendak dicapai untuk masa yang akan dating. Sasaran adalah titik akhir terhadap seluruh kegiatan khusus atau tertentu diarahkan.
MANAGEMENT atau Manajemen adalah sebagai suatu kegiatan manajer dalam pengambilan keputusan mengkoordinasikan usaha-usaha kelompok dan kepemimpinan. Untuk mencapai sasaran disusun program-program. Management By Objectives (MBO) : Pertama, Perumusan Sasaran (Goals Setting). Kedua, Perencanaan Tindakan (Action Planning). Ketiga, Pengasan Sendiri (Self Control). Ke-empat, Laporan Kemajuan secara berkala.
ADMINISTRATION atau Administrasi adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan seseorang administrator secara teratur dan diatur melalui perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan untuk mencapai tujuan akhir yang telah ditentukan.
Jika anda ingin sukses jangan lupakan OMA, Organation, Management and Administration.